Kamis, 09 Januari 2014

Cinta Tanpa Logika

Cinta adalah fitrah nya manusia dan anugerah dari Yang Maha Kuasa, tak satupum manusia dalam hidupnya bebas dari kehadiran sang cinta. Namun sayangnya, hadirnya cinta ini seringkali menjadi sesuatu yang justru malah menjerumuskan si orang yang dijangkitnya. Loh kok bisa? Bukankah cinta adalah anugerah dari Allah dan Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya? Ya benar bahwa Allah memang dan tak akan pernah mendzalimi hamba-Nya namun manusia itu sendiri lah yang malah mendzalimi dirinya sendiri.
Kehadiran cinta sering membuat sesorang berubah 100 derajat, bahkan dalam syair sang pujangga Kahlil Gibran pun “Cinta bisa membuat orang lemah menjadi kuat dan raja melepaskan mahkotanya”. Tidak masalah jika perubahan yang terjadi mengarah kepada kebaikan, lalu bagaimana jika mengarah kepada keburukan?
Sikap seseorang ketika sedang jatuh cinta adalah memandang segalanya menjadi indah, bahkan seburuk apapun tetap indah dipandangan. Semakin dalam cinta itu melekat dihati, maka semakin hati menjadi buta akan keburukan.
Cinta dapat menutup logika, sebagaimana fatamorgana di padang pasir. Siapapun yang logika nya tertutup oleh cinta, maka bersiaplah kehancuran dalam dirnya. Segala perbuatan buruk akan menjadi baik karena logika tak lagi bekerja, sikap jelak sekalipun dapat dimaklumi karena dalil tiada manusia yang sempurna. Padahal mencintai, jika ini adalah cinta yang dikhususkan kepada si calon pendamping hidup maka harus benar terjaga kemurniannya. Jangan sampai timbul cinta karena sesuatu maka terhijablah logika di bawah selimut merah jambu.
Maka disini kita dituntut untuk menjaga iman agar ia menjadi pembeda saat sang logika tak lagi bekerja.
Cinta bisa menutupi logika, tapi cinta tak bisa menutupi iman jika iman itu senantiasa terjaga kesuburannya. Banyak remaja yang rela kehilangan kesuciannya karena logika yang sudah terkalahkan oleh cinta tak berhias iman. Banyak yang menghabisi nyawanya sendiri karena kecewa gara gara cinta. Oleh karena itulah, keimanan harus senantiasa terjaga agar selalu berada pada level atas agar iman itu mampu menghiasi cinta sehingga cinta takluk dan tak berani macam macam pada logika.
Cinta yang berhiaskan keimanan hanya membawa kepada kebaikan, dan tidak menuntut apapun dari siapapun melainkan kepada diri sendiri. Sehingga akan muncul pada diri sendiri, “apa yang dapat ku lakukan untuk membuktikan cintaku padanya?” maka akan muncul dua jawaban pilihan, “menikahinya atau menjaga dirinya dengan tidak membiarkan ia terjerumus kedalam kemaksiatan”
Sungguh betapa indah mencintai dengan iman, inilah mencintai karena Allah…
Palembang, 24 Oktober 2013
Izzatul Ikhwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar