Cinta adalah fitrah nya manusia dan anugerah dari
Yang Maha Kuasa, tak satupum manusia dalam hidupnya bebas dari
kehadiran sang cinta. Namun sayangnya, hadirnya cinta ini seringkali
menjadi sesuatu yang justru malah menjerumuskan si orang yang
dijangkitnya. Loh kok bisa? Bukankah cinta adalah anugerah dari Allah
dan Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya? Ya benar bahwa Allah memang
dan tak akan pernah mendzalimi hamba-Nya namun manusia itu sendiri lah
yang malah mendzalimi dirinya sendiri.
Kehadiran cinta sering membuat sesorang berubah 100 derajat, bahkan
dalam syair sang pujangga Kahlil Gibran pun “Cinta bisa membuat orang
lemah menjadi kuat dan raja melepaskan mahkotanya”. Tidak masalah jika
perubahan yang terjadi mengarah kepada kebaikan, lalu bagaimana jika
mengarah kepada keburukan?
Sikap seseorang ketika sedang jatuh cinta adalah memandang segalanya
menjadi indah, bahkan seburuk apapun tetap indah dipandangan. Semakin
dalam cinta itu melekat dihati, maka semakin hati menjadi buta akan
keburukan.
Cinta dapat menutup logika, sebagaimana fatamorgana di padang pasir.
Siapapun yang logika nya tertutup oleh cinta, maka bersiaplah kehancuran
dalam dirnya. Segala perbuatan buruk akan menjadi baik karena logika
tak lagi bekerja, sikap jelak sekalipun dapat dimaklumi karena dalil
tiada manusia yang sempurna. Padahal mencintai, jika ini adalah cinta
yang dikhususkan kepada si calon pendamping hidup maka harus benar
terjaga kemurniannya. Jangan sampai timbul cinta karena sesuatu maka
terhijablah logika di bawah selimut merah jambu.
Maka disini kita dituntut untuk menjaga iman agar ia menjadi pembeda saat sang logika tak lagi bekerja.
Cinta bisa menutupi logika, tapi cinta tak bisa menutupi iman jika iman
itu senantiasa terjaga kesuburannya. Banyak remaja yang rela kehilangan
kesuciannya karena logika yang sudah terkalahkan oleh cinta tak berhias
iman. Banyak yang menghabisi nyawanya sendiri karena kecewa gara gara
cinta. Oleh karena itulah, keimanan harus senantiasa terjaga agar selalu
berada pada level atas agar iman itu mampu menghiasi cinta sehingga
cinta takluk dan tak berani macam macam pada logika.
Cinta yang berhiaskan keimanan hanya membawa kepada kebaikan, dan tidak
menuntut apapun dari siapapun melainkan kepada diri sendiri. Sehingga
akan muncul pada diri sendiri, “apa yang dapat ku lakukan untuk
membuktikan cintaku padanya?” maka akan muncul dua jawaban pilihan,
“menikahinya atau menjaga dirinya dengan tidak membiarkan ia terjerumus
kedalam kemaksiatan”
Sungguh betapa indah mencintai dengan iman, inilah mencintai karena Allah…
Palembang, 24 Oktober 2013
Izzatul Ikhwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar