Karya
: M.Riza Abdillah
Malam
itu Muhtar tertegun. Hujan yang turun menerobos atap rumah Muhtar yang bocor
dan membasahi buku yang isinya adalah pekerjaan rumahnya. Muhtar yang sedang
mengerjakan pekerjaanku juga mengotak-ngatik telepon gengganya. Telepon
genggamnya berbunyi dengan sebuah pesan.
“Muhtar, kamu lagi ngapain?” Pesan Diana yang merupakan kekasih Muhtar.
“Aku cuma lagi bingung nih, buku aku basah nih gara-gara atap rumahku bocor padahal aku lagi buat pr, mau dilanjutin tapi buku aku basah.” Muhtar menjawab.
“Yaudah salin ulang aja, pokoknya harus buat pr buat besok, jangan gak buat pr loh, nanti aku cubit kamu kalo gak buat pr, oh iya jangan tidur malem-malem ya, kalo ketahuan, kita putus! becanda kok sayang hehe, aku tidur ya, good night and have a nice dream ya Muhtar!” Diana pun kembali mengirim pesan untuk Muhtar yang meninggalkan Muhtar karena Diana ingin tidur.
“Iya Din, tenang aja kok nggak malem banget hehe, good night and have a nice dream too ya Din!” Muhtar menjawab dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Muhtar, kamu lagi ngapain?” Pesan Diana yang merupakan kekasih Muhtar.
“Aku cuma lagi bingung nih, buku aku basah nih gara-gara atap rumahku bocor padahal aku lagi buat pr, mau dilanjutin tapi buku aku basah.” Muhtar menjawab.
“Yaudah salin ulang aja, pokoknya harus buat pr buat besok, jangan gak buat pr loh, nanti aku cubit kamu kalo gak buat pr, oh iya jangan tidur malem-malem ya, kalo ketahuan, kita putus! becanda kok sayang hehe, aku tidur ya, good night and have a nice dream ya Muhtar!” Diana pun kembali mengirim pesan untuk Muhtar yang meninggalkan Muhtar karena Diana ingin tidur.
“Iya Din, tenang aja kok nggak malem banget hehe, good night and have a nice dream too ya Din!” Muhtar menjawab dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tidak
lama setelah percakapan antara Muhtar dan Diana selesai, Putri yang merupakan
teman sekelas Muhtar mengirim pesan kepada Muhtar yang mempunyai inti bahwa ada
seseorang teman sekelas Muhtar yang menaruh perasaan kepadanya selama
berbulan-bulan namun Muhtar tidak menyadari akan hal itu. Dyah adalah seseorang
yang menaruh perasaan kepada Muhtar, namun Muhtar hanya menganggap Dyah sebagai
teman biasa yang tidak ada sama sekali rasa peduli apalagi kasih sayang. Putri
yang menyadari kalau Muhtar tidak punya rasa apa-apa terhadap Dyah sangat marah
malam itu dan ingin sekali menjadi musuh Muhtar karena Putri menganggap bahwa
Dyah tak punya rasa peduli sesama manusia dan akhirnya Dyah mengakhiri
percakapan dengan Muhtar.
Setelah Muhtar menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia langsung memikirkan apa yang sebenarnya disampaikan oleh Putri. Muhtar yang sedang menjalin hubungan dengan Diana tentu tak mau kehilangan Diana, namun di satu sisi juga, Muhtar sangat tidak ingin menyakiti hati Dyah yang sudah tulus selama ini mencintai Muhtar secara diam-diam. Muhtar lalu memikirkan harus berbuat apa dan harus bagaimana, namun Muhtar tidak mendapat solusi dan akhirnya dia memilih untuk menenangkan diri dan tidur di malam itu.
Setelah Muhtar menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia langsung memikirkan apa yang sebenarnya disampaikan oleh Putri. Muhtar yang sedang menjalin hubungan dengan Diana tentu tak mau kehilangan Diana, namun di satu sisi juga, Muhtar sangat tidak ingin menyakiti hati Dyah yang sudah tulus selama ini mencintai Muhtar secara diam-diam. Muhtar lalu memikirkan harus berbuat apa dan harus bagaimana, namun Muhtar tidak mendapat solusi dan akhirnya dia memilih untuk menenangkan diri dan tidur di malam itu.
Muhtar
terbangun dengan pesan di telpon genggamnya yang berasal dari Dyah.
“Aku tau ini sulit bagimu, tapi maafkan aku yang telah mengganggu hubunganmu, tapi jujur, aku menyayangimu selama ini.” Tutur kata pesan dari Dyah membuat Muhtar tambah bingung dan dia merasa kalau tidak ingin pergi berangkat ke sekolah karena sebuah masalah yang sedang dia pikirkan dengan sangat serius ini. Muhtar tidak menjawab pesan dari Dyah, namun Muhtar berpikir seberat-berat apapun masalah yang dia hadapi di sekolah, dia harus tetap sekolah.
Sesampainya Muhtar di sekolah, dia langsung mencari dan
bercerita dengan 4 orang sahabatnya yaitu Pratama, Rahman, Badrun, dan Arman.“Aku tau ini sulit bagimu, tapi maafkan aku yang telah mengganggu hubunganmu, tapi jujur, aku menyayangimu selama ini.” Tutur kata pesan dari Dyah membuat Muhtar tambah bingung dan dia merasa kalau tidak ingin pergi berangkat ke sekolah karena sebuah masalah yang sedang dia pikirkan dengan sangat serius ini. Muhtar tidak menjawab pesan dari Dyah, namun Muhtar berpikir seberat-berat apapun masalah yang dia hadapi di sekolah, dia harus tetap sekolah.
“Kalian tahu tidak? Ada seseorang yang mencintaiku secara diam-diam?” Muhtar berbicara dengan wajah bingung.
“Kami tidak tahu.” Jawab mereka secara serentak.
“Setahu kami, hanya Diana yang mencintaimu bahkan sekarang dia dan kamu telah saling memiliki satu sama lain, bukan?” Arman langsung memotong.
“Tetapi man, itu sebelumnya, sekarang aku mengetahui bahwa ada seseorang yang mencintaiku selain Diana, apakah kalian tau Dyah?” Muhtar kembali menjawab.
“Dyah? Dyah Permata?” Mereka kembali menjawab secara serentak.
“Ya, itu benar. Putri memberitahuku semuanya semalam. Pratama, tolong panggil Alifah dan Nurul kesini, aku butuh mereka sebagai sahabat dari Diana.” Jawab Muhtar.
“Baik boss! akan segera aku panggil mereka!” Pratama berteriak.
Tak lama setelah Pratama memanggil Alifah dan Nurul, mereka kembali berdiskusi tentang masalah yang sedang Muhtar alami.
“Muhtar, Aku dan Alifah sudah mengetahui masalahmu, Putri bercerita pada kami, tapi aku yakin, engkau akan tetap bertahan dan kau dapat memecahkan masalahmu sendiri, kami hanya bisa memberi saran kepadamu dan hanya engkau yang dapat memilih saran tersebut dan apa yang akan kau jalankan.” Nurul tersenyum pada Muhtar.
“Iya, Aku setuju dengan Nurul!” Dengan polosnya Alifah berteriak dan menjawab.
“Menurutku, kamu harus menyatakan apa yang terjadi pada Diana supaya dia tahu yang sebenarnya terjadi, itu harus karena jika kamu jujur, Aku yakin kalian berdua akan tenang.” Dengan kerasnya Rahman juga ikut memberi solusi untuk Muhtar.
“Aku hanya ingin mempertahankan Diana dan aku juga ingin Dyah melupakanku dengan perlahan tanpa ada rasa sakit, karena aku tau bagaimana rasa sakit hati yang mereka rasakan jikalau mereka saling mengetahui satu sama lain, apalagi mereka sahabat.” Jawab Muhtar dengan wajah yang serius.
“Cinta kalian adalah cinta segitiga yang membingungkan, jika aku menjadi kamu ya tar, aku bakal terus terang sama Dyah dan masalah selesai, tapi aku tau kamu gak tega sama Dyah, kita butuh kak Lukman yang aku rasa bisa membantumu tar.” Badrun langsung terpikir dengan hal itu lalu Muhtar pun setuju dan akhirnya mereka bertujuh mencari dimana kak Lukman yaitu seorang penjaga sekolah yang selalu menjadi tempat curahan hati mereka selama ini dan selalu memberi motivasi bagi mereka.
Setelah berkeliling sekolah selama setengah jam, mereka akhirnya bertemu kak Lukman di dekat taman sekolah. Muhtar yang mempunyai masalah dan kebingungan langsung bercerita dan menyampaikan seluruh keluh kesah yang dia rasakan.
“Kak, kakak tahu kan aku sedang menjalani hubungan dengan kekasihku si Diana? ternyata, teman dekat Diana yaitu Dyah juga mencintaiku kak, Aku menjadi bingung, apakah harus jujur atau tetap begini dengan keadaanku yang sekarang? Atau aku harus lari dari kenyataan dengan meninggalkan mereka berdua?” Dengan wajah serius, Muhtar bicara.
“Adik, jalan yang mudah hanya bersikaplah seperti biasa, bersikaplah bagaimana adik tidak tahu padahal sebenernya adik tahu semuanya. Karena kakak tahu, adik kakak yang satu ini ingin sekali mempertahankan Diana namun tidak ingin Dyah merasakan hal yang telah adik rasakan sendiri. Satu nasihat untuk adik, yaitu, jadilah batu karang di tengah laut yang artinya, jika adik punya banyak masalah dan kebingungan, adik harus tetap tersenyum seperti batu karang di tengah laut yang selalu kuat walaupun selalu di terpa ombak dari manapun dan kapanpun itu.”
“Apakah aku bisa menjalankan semuanya ini dengan sebaik-baik mungkin, kak?”
“Kamu itu Muhtar dik, Muhtar yang bisa menjaga rahasia dan bisa mengatur semua yang sudah kamu rencanakan, ingat ya dik, semua akan indah pada waktunya” Jawab kak Lukman dengan tutur kata ya lembut.
“Baiklah kak, terima kasih atas sarannya ya kak.” Jawab Muhtar dengan wajah yang bingung.
“Kamu pasti bisa tar!” Rahman, Badrun, Pratama, dan Arman langsung berteriak menyemangatiku.
“Kamu bisa tar!” Alifah dan Nurul pun mengikuti keempat sahabatku.
Akhirnya sejak saat itu segitiga yang membingungkan yang terbentuk antara Muhtar, Diana dan Dyah saling menyimpan rasanya satu sama lain, Muhtar yang tetap menjalin hubungan dengan Diana kini kembali seperti yang lama yang selalu berdua disaat apa pun dan dimana pun walaupun Muhtar tau perasaan Dyah yang masih bertahan untuk Muhtar dan masih menyimpan rasa yang sangat sayang yang mendalam bagi Muhtar. Entah jenis atau bentuk karma apakah yang akan didapatkan oleh Muhtar nanti, Apakah dia akan seperti Dyah? ataukah tidak akan dihargai oleh orang lain?
- Story of my life.