Kamis, 09 Januari 2014

Dalam Diam

Dalam diam aku melukis wajahmu.
Lalu ku hapus agar tak satupun orang yang tahu.
Dalam diam ku eja namamu.
Lalu aku kembali terdiam agar tak satupun dapat mendengarnya.
Dalam diam ku menanti dirimu.
Namun saat kau datang, aku beranjak pergi agar kau pun tak menyadari bahwa diriku disini untuk menantimu.
Dalam diam, aku hanya bisa termenung, sekuat hati menjaga hati agar setan tak menemukan pintu masuk kedalamnya.
Dalam diam ku sapa angin, biarlah bayangmu diterbangkan olehnya.
Dalam diam, ku acuhkan hati ini agar ia tak semakin menjadi-jadi risau nya.
Dalam diam, ku hembuskan nafas, ku arahkan pandangan ke arah langit tak berbatas ku lepaskan angan angan ku tentang mu…
Namun dalam diam, ku tetap berdoa, jika engkaulah tulang rusukku…

-Izzatul Ikhwan

Cinta Tanpa Logika

Cinta adalah fitrah nya manusia dan anugerah dari Yang Maha Kuasa, tak satupum manusia dalam hidupnya bebas dari kehadiran sang cinta. Namun sayangnya, hadirnya cinta ini seringkali menjadi sesuatu yang justru malah menjerumuskan si orang yang dijangkitnya. Loh kok bisa? Bukankah cinta adalah anugerah dari Allah dan Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya? Ya benar bahwa Allah memang dan tak akan pernah mendzalimi hamba-Nya namun manusia itu sendiri lah yang malah mendzalimi dirinya sendiri.
Kehadiran cinta sering membuat sesorang berubah 100 derajat, bahkan dalam syair sang pujangga Kahlil Gibran pun “Cinta bisa membuat orang lemah menjadi kuat dan raja melepaskan mahkotanya”. Tidak masalah jika perubahan yang terjadi mengarah kepada kebaikan, lalu bagaimana jika mengarah kepada keburukan?
Sikap seseorang ketika sedang jatuh cinta adalah memandang segalanya menjadi indah, bahkan seburuk apapun tetap indah dipandangan. Semakin dalam cinta itu melekat dihati, maka semakin hati menjadi buta akan keburukan.
Cinta dapat menutup logika, sebagaimana fatamorgana di padang pasir. Siapapun yang logika nya tertutup oleh cinta, maka bersiaplah kehancuran dalam dirnya. Segala perbuatan buruk akan menjadi baik karena logika tak lagi bekerja, sikap jelak sekalipun dapat dimaklumi karena dalil tiada manusia yang sempurna. Padahal mencintai, jika ini adalah cinta yang dikhususkan kepada si calon pendamping hidup maka harus benar terjaga kemurniannya. Jangan sampai timbul cinta karena sesuatu maka terhijablah logika di bawah selimut merah jambu.
Maka disini kita dituntut untuk menjaga iman agar ia menjadi pembeda saat sang logika tak lagi bekerja.
Cinta bisa menutupi logika, tapi cinta tak bisa menutupi iman jika iman itu senantiasa terjaga kesuburannya. Banyak remaja yang rela kehilangan kesuciannya karena logika yang sudah terkalahkan oleh cinta tak berhias iman. Banyak yang menghabisi nyawanya sendiri karena kecewa gara gara cinta. Oleh karena itulah, keimanan harus senantiasa terjaga agar selalu berada pada level atas agar iman itu mampu menghiasi cinta sehingga cinta takluk dan tak berani macam macam pada logika.
Cinta yang berhiaskan keimanan hanya membawa kepada kebaikan, dan tidak menuntut apapun dari siapapun melainkan kepada diri sendiri. Sehingga akan muncul pada diri sendiri, “apa yang dapat ku lakukan untuk membuktikan cintaku padanya?” maka akan muncul dua jawaban pilihan, “menikahinya atau menjaga dirinya dengan tidak membiarkan ia terjerumus kedalam kemaksiatan”
Sungguh betapa indah mencintai dengan iman, inilah mencintai karena Allah…
Palembang, 24 Oktober 2013
Izzatul Ikhwan

Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur’an

Allah SWT menciptakan manusia sebagai masterpiece dari seluruh ciptaannya. Manusia dianugerahi gelar sebagai ahsanu takwim, sebaik-baiknya ciptaan, sebagaimana tertulis di Al-Qur’an surat At-Tin ayat 4.
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS At-Tin: 4)
Kesempurnaan manusia sebagai ciptaan Allah sejalan dengan beratnya beban yang harus ditanggung di dunia ini. Allah menciptakan manusia beserta kesempurnaanya untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al- Baqarah ayat 30
Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(QS Al-Baqarah: 30)
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan makna khalifah sebagai yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah berarti yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan.[1]
            Karena manusia terlahir sebagai khalifah fil ardh, tugas selanjutnya adalah menggali potensi kepemimpinannya yang bertujuan memberikan pelayanan serta pengabdian yang diniatkan semata-mata karena amanah Allah, yaitu dengan cara memainkan perannya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta.[2]
Kepemimpinan bagi semua manusia bukanlah pilihan, melainkan adalah kemestian. Setiap manusia dengan takdirnya telah diberikan amanah sebagai pemimpin. Seorang kepala negara adalah pemimpin bagi rakyatnya, seorang direktur perusahaan adalah pemimpin bagi staff dan karyawannya, seorang ketua organisasi adalah pemimpin bagi anggotanya, seorang guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya, seorang ayah adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, bahkan setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya.”(HR: Bukhari dan Muslim)
Dari ungkapan ini jelas bahwa manusia telah terlahir sebagai pemimpin dan tugas manusia itu pula yang harus menghidupkan nilai kepemimpinannya. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi. Bila Rasulullah mengatakan bahwa setiap orang itu adalah pemimpin, berarti manusia terlahir dengan bakat memengaruhi.[3]Jadi setiap manusia memiliki kewajiban untuk mempengaruhi orang lain. Dengan demikian maka manusia yang menarik diri dari pergaulan masyarakat untuk hidup menyendiri telah menentang qodratnya dan juga perintah Tuhannya.
Sebagai seorang pemimpin baik untuk dirinya sendiri ataupun orang lain, manusia harus mengikuti ketentuan dan ketetapan Allah. Kewajiban manusia sebagai pemimpin yang paling utama adalah menjaga dirinya dan juga keluarganya dari api neraka, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an;
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu”.(QS At-Tahrim : 6)
Menjaga keluarga dari siksa api neraka adalah wajib hukumnya, sebagaimana disampaikan Allah dalam firman-Nya diatas. Menjaga diri dan keluarga dari api neraka tentunya harus berdasarkan ilmu. Ilmu dapat membimbing, menuntun kita kepada jalan yang semestinya kita lalui, dengan ilmu kita terbimbing kepada tujuan yang kita harapkan yaitu Jannah. Ilmu bak cahaya dikegelapan malam. maka tidak heran kalau Alloh dan Rosulnya menyanjung orang-orang yang berilmu di dalam firman-Nya dan sabdanya. untuk memenuhi kebutuhan ini mestinya kita mengajarkan kepada keluarga kita akan ilmu. Karena itu, adh-Dhahhak dan Muqatil menafsirkan ayat tersebut diatas , “Wajib bagi setiap muslim, mengajarkan keluarganya, kerabat dan hamba sahayanya akan apa yang diwajibkan oleh Allah atas mereka, dan apa yang dilarang-Nya.” Hal senada dikatakan oleh At-Thabari, “Hendaknya kita mengajari anak-anak dan keluarga kita masalah agama dan kebaikan, serta apa-apa yang penting dan dibutuhkan dalam persoalan adab dan akhlak.”

[1]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah vol.1, hal. 172-173.
[2]KH. Toto Tasmara, Spiritual Centered Leadership, hal. 163
[3]Ibid, hal. 164